Rabu, 17 September 2014

SOUVENIR UNTUK DOSEN PEMBIMBING

Bagi setiap mahasiswa kampus yang menjalani skripsi seringkali diliputi rasa khawatir siapa Dosen yang akan membimbingnya? akankah Dosen tersebut nantinya akan banyak membantu dalam penelitian dan skripsinya atau malah cuex dan menyudutkan si Mahasiswa.?

Contoh kasus teman se’angkatanku Mba amel yang niat ambil sks skripsi agar kuliah cepat kelar dan bisa lebih fokus ke kerjaan dan keluarga, namun apa daya ternyata dia mendapat Dospem (Dosen Pembimbing) yang luar biasa killer.. skripsipun seakan ditunda-tunda dalam penyelesaiannya dengan dalih pelajari skripsi dengan seksama agar mudah saat sidang nanti.. tapi, kalo harus menempuh 2 semester dan tetap tidak diperkenankan maju sidang, itu sich mending ke Kajur (Ketua Jurusan) minta ganti Dospem dech..

Untuk diriku sendiri alhamdulillah mendapat Dospem yang cukup koperatif. Awal melihat tampang sich sepertinya dosen ku galak ternyata pepatah “dont see the cover” itu tepat bangetz. Beliau cukup baik dan sabar membimbing dalam segala kesulitan yang kutemui di skripsi. Kendala yang kutemui hanya soal waktu yang sering bentrok antara pekerjaanku dengan waktu Dospemku dalam penetapan jadwal bimbingan. Adakalanya pandangan Dospem ku yang bertitel “Dr” pun jauh diluar nalarku sebagai mahasiswa yang baru mau mengejar titel S1. Hee.. :-P
Nah bicara Dospem, ada beberapa tipe Dospem (Dosen Pembimbing) yang sering ditemui oleh para Mahasiswa/i dan patut kita tahu, diantaranya;
  • Tipe pertama adalah adanya dosen pembimbing yang ingin sekali mahasiswanya menghasilkan karya yang benar-benar baik, telah sesuai standar nasional bahkan internasional. Penelitian yang dilakukan benar-benar merupakan hal yang baru di dunia penelitian. Dosen pembimbing seperti ini maksudnya memang baik. Mahasiswa yang dibimbing akan bekerja dengan optimal dan berusaha semaksimal mungkin. Meskipun begitu, mahasiswa yang mendapat dosen pembimbing seperti ini banyak yang mengeluh karena sudah terlalu lama untuk melakukan revisi dan tidak jarang lulus dengan waktu yang cukup lama. Menurut saya, metode bimbingan dari dosen seperti ini sebenarnya bagus. Namun hal ini mungkin dapat diterapkan untuk mahasiswa S2 atau S3 yang telah terlatih dalam melakukan penelitian. Untuk tingkatan S1 sebenarnya karena masih belajar untuk melakukan penelitian, maka metode ini saya rasa masih belum waktunya.
  • Tipe kedua adalah dosen yang sangat berpegang pada prinsip. Tipe ini menjadi masalah apabila dosen memiliki prinsip kuat, sering menimbulkan kebingungan mahasiswa. Jika seorang mahasiswa telah merevisi tulisannya hasil dari pembimbing, tak jarang tulisannya tersebut dirombak total kembali. Akhirnya mahasiswa tersebut kebingungan.
  • Tipe dosen selanjutnya adalah tipe dosen pembimbing yang cuek dengan mahasiswa bimbingannya. Tipe dosen seperti ini sangat sulit ditemui, dan jika mahasiswa menemui kesulitan sang dosen tidak dapat menjawab kesulitan dengan baik. Atau, sang dosen sebenarnya sudah menerangkan dengan baik, karena kurang jelasnya penjelasan maka mahasiswa bimbingannya sering mendapat kebingungan. Data pengamatan yang diambil akan banyak kesalahan. Di sinilah pentingnya dosen pembimbing lain yang lebih menjelaskan dan mengarahkan mahasiswanya agar tidak tersesat.
  • Tipe dosen terakhir adalah dosen yang kooperatif. Sang dosen akan mengarahkan mahasiswa untuk melakukan penelitian sesuai kemampuan mahasiswa tersebut. Tentunya dosen tersebut telah mengetahui kemampuan mahasiswa dari beberapa tahapan yang telah dilalui. Dosen akan memberi tugas untuk mengarahkan mahasiswanya, Misalnya dosen akan membimbing mahasiswa di dalam memillih metode penelitian dan pengambilan data kemudian membimbing mahasiswa lebih banyak ke dalam pembahasan. Meskipun dosen dengan tipe seperti ini kadang-kadang menimbulkan kerancuan antara data dengan pembahasan, namun dengan proses bimbingan yang lebih intensif maka masalah tersebut dapat diatasi.

Apapun tipe dosen yang didapat, yang perlu dilakukan mahasiswa adalah menjalin komunikasi yang baik dengan dosen. Komunikasi baik dan intensif dengan dosen merupakan kunci kesuksesan di dalam menulis skripsi. Jika sang dosen telah memberi tugas dengan waktu tertentu segeralah kerjakan tugas tersebut. Jika nantinya didapat hasil yang belum memuaskan dapat dikonsultasikan dengan sang dosen. Selain itu, meskipun sekarang kita bisa mendapatkan segala info dari Mbah google, namun banyak membaca buku dan artikel penelitian juga penting lho.

Waktu yang aku tempuh untuk memulai skripsi hingga sidang akhir adalah 5 blan dengan jedah waktu karena sakit 2 minggu, galau gajelas sekitar 1 blan (biasalah ABG. Heeee..) dan jedah hari raya Idul fitri karena Dospem mudik sekitar 3 mingguan. Jadi kalo dihitung” melakukan penelitan dan penyusunan skripsi secara serius hanya sekitar 3 bulan’an saja. :) semua itu berkat bimbingan Dospem-ku yang luar biasa banyak membantu :)
Dan kini alhamdulillah beban skripsi telah berlalu dan tinggal menunggu hasil yang insyaallah semoga mendapat hasil terbaik. Amin..
Setelah sidang selesai itu rasanya luar biasa legaaa, meskipun sempat merasa gusar karena Dosen penguji yang menyulitkan tapi akhir hasil sungguh membuat bibir ini tersenyum bangga..

Nah saat Mahasiswa/i melakukan revisi akhir skripsi atau saat minta tanda tangan pengesahan, tradisi memberi souvenir kepada Dospem tentu menjadi suatu hal yang sangat wajar. Bukan berarti Dospem yang meminta tetapi hal ini merupakan wujud tanda terima kasih kepada Dospem yang telah banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi hingga mampu melewati masa sidang yang cukup menegangkan. Untuk Dospemku ndiri, dari awal membimbing hingga lulus sidang tidak pernah meminta apapun kepadaku. Sungguh beruntungnya diriku mendapat Dospem yang super baik.. :) beliau malah support bangetz agar aku melanjutkan study kembali ke S2. Hahahayyy S1 saja sempat membuat kepala ngebull apalagi S2 yeee..?? pas dulu lah untuk hal yang satu ituu.. :-P

Dari berbagai info di net dan beberapa discuss dengan teman”ku, ada beberapa souvenir yang bisa menjadi pilihan untuk Dospem, diantaranya adalah..;

Dosen Pria:
1.        Tas. bisa berupa tas ransel yg sudah dilengkapi pelindung laptop atau tas jinjing
2.        Paket dasi + manset + saputangan. Cari yg modelnya bagus dan bungkus dengan rapi.
3.        Kemeja atau Batik.. Walaupun bukan keharusan, sebaiknya cari yang bermerk bagus. Karena itu akan menjadi suatu kebanggan tersendiri bagi si Pemberi dan si Pemakai.
4.        Set pena.
5.        Kalau dosen kita naik motor, boleh juga tuh beli perlengkapan berkendara. jaket, helm, sarung tangan kulit dsb.
6.        Buku. Cari buku yang Hobby dibaca atau bisa juga disesuaikan sebagai bahan mengajarnya dikelas.

Dosen Wanita:
1.           Tas.. bisa berupa tas tangan, tas laptop atau tas pesta (clutch bag, karena lumrahnya semua wanita suka tas, harganya jg bervariasi bisa disesuaikan dgn budget.
2.           Jam tangan.. Lumayan mahal, tapi klo merasa si Dospem ini sangat membantu proses skripsi, boleh dipertimbangkan.
3.           Kerudung atau Pasmina. Buat dosen yang berkerudung hadiah ini pasti bermanfaat, harga jg bervariasi. Cari yang modelnya bagus dan sedikit lux.
4.           Buku.

Apapun itu, beberapa pilihan souvenir di atas bukan berarti pilihan utama atau menjadi suatu keharusan. Semua dikembalikan kepada kemampuan budget kita masing-masing. Tidak semua Dospem juga berharap dan meminta diberi souvenir. Ucapan terima kasih langsung secara lisan juga sudah cukup membuat mereka senang dan bangga akan keberhasilan kita sebagai anak bimbingannya koq. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar