Bagi setiap
mahasiswa kampus yang menjalani skripsi seringkali diliputi rasa khawatir siapa
Dosen yang akan membimbingnya? akankah Dosen tersebut nantinya akan banyak
membantu dalam penelitian dan skripsinya atau malah cuex dan menyudutkan si
Mahasiswa.?
Contoh kasus
teman se’angkatanku Mba amel yang niat ambil sks skripsi agar kuliah cepat
kelar dan bisa lebih fokus ke kerjaan dan keluarga, namun apa daya ternyata dia
mendapat Dospem (Dosen Pembimbing) yang luar biasa killer.. skripsipun seakan
ditunda-tunda dalam penyelesaiannya dengan dalih pelajari skripsi dengan
seksama agar mudah saat sidang nanti.. tapi, kalo harus menempuh 2 semester dan
tetap tidak diperkenankan maju sidang, itu sich mending ke Kajur (Ketua
Jurusan) minta ganti Dospem dech..
Untuk diriku
sendiri alhamdulillah mendapat Dospem yang cukup koperatif. Awal melihat
tampang sich sepertinya dosen ku galak ternyata pepatah “dont see the cover”
itu tepat bangetz. Beliau cukup baik dan sabar membimbing dalam segala
kesulitan yang kutemui di skripsi. Kendala yang kutemui hanya soal waktu yang
sering bentrok antara pekerjaanku dengan waktu Dospemku dalam penetapan jadwal
bimbingan. Adakalanya pandangan Dospem ku yang bertitel “Dr” pun jauh diluar
nalarku sebagai mahasiswa yang baru mau mengejar titel S1. Hee.. :-P
Nah bicara
Dospem, ada beberapa tipe Dospem (Dosen Pembimbing) yang sering ditemui oleh
para Mahasiswa/i dan patut kita tahu, diantaranya;
- Tipe pertama adalah adanya dosen pembimbing yang ingin sekali mahasiswanya menghasilkan karya yang benar-benar baik, telah sesuai standar nasional bahkan internasional. Penelitian yang dilakukan benar-benar merupakan hal yang baru di dunia penelitian. Dosen pembimbing seperti ini maksudnya memang baik. Mahasiswa yang dibimbing akan bekerja dengan optimal dan berusaha semaksimal mungkin. Meskipun begitu, mahasiswa yang mendapat dosen pembimbing seperti ini banyak yang mengeluh karena sudah terlalu lama untuk melakukan revisi dan tidak jarang lulus dengan waktu yang cukup lama. Menurut saya, metode bimbingan dari dosen seperti ini sebenarnya bagus. Namun hal ini mungkin dapat diterapkan untuk mahasiswa S2 atau S3 yang telah terlatih dalam melakukan penelitian. Untuk tingkatan S1 sebenarnya karena masih belajar untuk melakukan penelitian, maka metode ini saya rasa masih belum waktunya.
- Tipe kedua adalah dosen yang sangat berpegang pada prinsip. Tipe ini menjadi masalah apabila dosen memiliki prinsip kuat, sering menimbulkan kebingungan mahasiswa. Jika seorang mahasiswa telah merevisi tulisannya hasil dari pembimbing, tak jarang tulisannya tersebut dirombak total kembali. Akhirnya mahasiswa tersebut kebingungan.
- Tipe dosen selanjutnya adalah tipe dosen pembimbing yang cuek dengan mahasiswa bimbingannya. Tipe dosen seperti ini sangat sulit ditemui, dan jika mahasiswa menemui kesulitan sang dosen tidak dapat menjawab kesulitan dengan baik. Atau, sang dosen sebenarnya sudah menerangkan dengan baik, karena kurang jelasnya penjelasan maka mahasiswa bimbingannya sering mendapat kebingungan. Data pengamatan yang diambil akan banyak kesalahan. Di sinilah pentingnya dosen pembimbing lain yang lebih menjelaskan dan mengarahkan mahasiswanya agar tidak tersesat.
- Tipe dosen terakhir adalah dosen yang kooperatif. Sang dosen akan mengarahkan mahasiswa untuk melakukan penelitian sesuai kemampuan mahasiswa tersebut. Tentunya dosen tersebut telah mengetahui kemampuan mahasiswa dari beberapa tahapan yang telah dilalui. Dosen akan memberi tugas untuk mengarahkan mahasiswanya, Misalnya dosen akan membimbing mahasiswa di dalam memillih metode penelitian dan pengambilan data kemudian membimbing mahasiswa lebih banyak ke dalam pembahasan. Meskipun dosen dengan tipe seperti ini kadang-kadang menimbulkan kerancuan antara data dengan pembahasan, namun dengan proses bimbingan yang lebih intensif maka masalah tersebut dapat diatasi.
Apapun tipe dosen yang
didapat, yang perlu dilakukan mahasiswa adalah menjalin komunikasi yang baik
dengan dosen. Komunikasi baik dan intensif dengan dosen merupakan kunci
kesuksesan di dalam menulis skripsi. Jika sang dosen telah memberi tugas dengan
waktu tertentu segeralah kerjakan tugas tersebut. Jika nantinya didapat hasil
yang belum memuaskan dapat dikonsultasikan dengan sang dosen. Selain itu,
meskipun sekarang kita bisa mendapatkan segala info dari Mbah google, namun
banyak membaca buku dan artikel penelitian juga penting lho.
Waktu yang aku tempuh
untuk memulai skripsi hingga sidang akhir adalah 5 blan dengan jedah waktu
karena sakit 2 minggu, galau gajelas sekitar 1 blan (biasalah ABG. Heeee..) dan
jedah hari raya Idul fitri karena Dospem mudik sekitar 3 mingguan. Jadi kalo
dihitung” melakukan penelitan dan penyusunan skripsi secara serius hanya
sekitar 3 bulan’an saja. :) semua itu berkat
bimbingan Dospem-ku yang luar biasa banyak membantu :)
Dan kini alhamdulillah
beban skripsi telah berlalu dan tinggal menunggu hasil yang insyaallah semoga
mendapat hasil terbaik. Amin..
Setelah sidang
selesai itu rasanya luar biasa legaaa, meskipun sempat merasa gusar karena
Dosen penguji yang menyulitkan tapi akhir hasil sungguh membuat bibir ini tersenyum
bangga..
Nah saat
Mahasiswa/i melakukan revisi akhir skripsi atau saat minta tanda tangan
pengesahan, tradisi memberi souvenir kepada Dospem tentu menjadi suatu hal yang
sangat wajar. Bukan berarti Dospem yang meminta tetapi hal ini merupakan wujud
tanda terima kasih kepada Dospem yang telah banyak membantu dalam proses
penyelesaian skripsi hingga mampu melewati masa sidang yang cukup menegangkan. Untuk
Dospemku ndiri, dari awal membimbing hingga lulus sidang tidak pernah meminta
apapun kepadaku. Sungguh beruntungnya diriku mendapat Dospem yang super baik.. :) beliau malah support bangetz agar aku
melanjutkan study kembali ke S2. Hahahayyy S1 saja sempat membuat kepala
ngebull apalagi S2 yeee..?? pas dulu lah untuk hal yang satu ituu.. :-P
Dari berbagai
info di net dan beberapa discuss dengan teman”ku, ada beberapa souvenir yang
bisa menjadi pilihan untuk Dospem, diantaranya adalah..;
Dosen Pria:
1.
Tas. bisa
berupa tas ransel yg sudah dilengkapi pelindung laptop atau tas jinjing
2.
Paket dasi +
manset + saputangan. Cari yg modelnya bagus dan bungkus dengan rapi.
3.
Kemeja atau
Batik.. Walaupun bukan keharusan, sebaiknya cari yang bermerk bagus. Karena itu
akan menjadi suatu kebanggan tersendiri bagi si Pemberi dan si Pemakai.
4.
Set pena.
5.
Kalau dosen
kita naik motor, boleh juga tuh beli perlengkapan berkendara. jaket, helm,
sarung tangan kulit dsb.
6.
Buku. Cari buku yang Hobby dibaca atau bisa juga disesuaikan sebagai
bahan mengajarnya dikelas.
Dosen Wanita:
1.
Tas.. bisa
berupa tas tangan, tas laptop atau tas pesta (clutch bag, karena lumrahnya semua
wanita suka tas, harganya jg bervariasi bisa disesuaikan dgn budget.
2.
Jam tangan.. Lumayan
mahal, tapi klo merasa si Dospem ini sangat membantu proses skripsi, boleh
dipertimbangkan.
3.
Kerudung atau
Pasmina. Buat dosen yang berkerudung hadiah ini pasti bermanfaat, harga jg
bervariasi. Cari yang modelnya bagus dan sedikit lux.
4.
Buku.
Apapun itu, beberapa
pilihan souvenir di atas bukan berarti pilihan utama atau menjadi suatu
keharusan. Semua dikembalikan kepada kemampuan budget kita masing-masing. Tidak
semua Dospem juga berharap dan meminta diberi souvenir. Ucapan terima kasih
langsung secara lisan juga sudah cukup membuat mereka senang dan bangga akan
keberhasilan kita sebagai anak bimbingannya koq. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar